Menyelami keresahan Nick Drake dalam album Pink Moon

oleh | Sep 18, 2019 | Budaya, Musik | 0 Komentar

And I was green, greener than the hill
Where the flowers grew and the sun shone still
Now I’m darker than the deepest sea
Just hand me down, give me a place to be.

Nick Drake

Track ke-2 (Place to be)

Nick Drake. Mungkin sebagai musisi folk namanya tidak semahsyur Bob Dylan atau Leonard Cohen. Namun, Nick Drake berhasil menyuguhkan mahakarya yang membuktikan bahwa karya yang menakjubkan tidak selalu sejalan dengan popularitas. Bahkan namanya baru mulai dikenal dan terendus media lebih dari 20 tahun pasca kematiannya.

 Nick Drake dan Pink Moon

Pink Moon (1972) merupakan album ketiga dan terakhir dari Nick Drake. Sebelum kematiannya 2 tahun kemudian dengan dugaan bunuh diri, karena ditemukan overdosis menelan kurang lebih 30 pil antidepresan.

Album Pink Moon hanya berisi 11 track dengan total durasi kurang dari 30 menit. Sepanjang album, pendengar akan dibawa hanyut hanya dengan alunan suara Baritone dari Nick Drake dan satu gitar akustik yang ia bawakan dengan sangat ciamik. Dengan senar yang barangkali sudah sangat usang. Dengan gaya petikannya yang unik. Dan dengan tuning diluar kebiasaan. Menghasilkan suara yang khas, dan tentunya sulit untuk ditiru persis.

Rangkaian kata yang dipilih dalam lagu lagunya sangat sarat dengan nuansa simbolik dan puitis. Tidak banyak mengenai romansa, olehnya kita diajak untuk masuk ke dalam isi kepala seorang introvert. Dan depresi. Mendengarkan Pink Moon, membawa kita seolah-olah sedang diajak berbincang secara intim oleh Nick Drake. Atau barangkali hanya mendengarkan dia yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Mengenai kehidupan dan segala keresahan didalamnya. Tentang diri yang semakin menua dan dewasa. Tentang kerendahdirian. Dan tentang pengharapan di pagi hari yang baru.

 

Reza AM

Kontributor