“Menurut kalian ada makna, yaudah. Kalau ngga ada makna, yaudah.”

– Mawang, 2019.

Musik dari band indie sedang merajalela di kalangan pemuda-pemudi di Indonesia. Terutama yang mellow dan puitis, biasanya didengar  sambil menyeruput secangkir kopi di waktu senja. Di tengah gempuran musik indie dengan lantunan syair yang dibuat sedemikian rupa, sebuah band bernama “Maw & Wang” mendadak menghebohkan jagad maya. Lagunya yang awalnya viral berjudul Kasih Sayang kepada Orang Tua. Apa yang membuatnya viral? Apakah karena musiknya yang lebih kompleks dari Bohemian Rhapsody? Atau karena syairnya yang lebih ngena ke hati orang-orang? Coba kita lihat petikan liriknya, “uwhk awahk iuwhkk aawhk iwukhu, aghh!!”. Sepertinya bukan. Justru hal yang menarik karena ketidakjelasan apa yang diucapkan oleh sang vokalis ini. Cara dia bernyanyi lebih mirip seperti cara berbicara tarzan saat menggantung di hutan. Ini cenderung membawa gelak tawa bagi pendengar.

Saat Mawang menggubah lagu tersebut kira-kira apa ya yang ada di pikirannya? Apa dia hanya bermaksud membuat pendengar tertawa? Ketika menyanyikan lagu ini secara live, dia terlihat menyanyikannya dengan serius dan khidmat. Bahkan ketika para penonton terpingkal-pingkal, ia seakan tidak terpengaruh dengan itu semua. Sepertinya lagu ini memang memiliki makna personal yang tidak main-main bagi Mawang. Sebelum menyanyikan lagu ini, Mawang selalu memberikan kata-kata pembuka. Menurutnya, rasa sayang kepada orang tua seringkali membuat kita gengsi untuk mengucapkannya. Rasa sayang tersebut tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata.

Sebenarnya kita mampu berfilosofi lebih untuk mencari maknanya.  Barangkali cara beliau bernyanyi adalah simbol seorang bayi yang belum dapat berbicara sehingga hanya bergumam tidak jelas. Meskipun bayi tidak berbicara, kita terkadang bisa mengerti apa yang diungkapkan. Apa yang sampai ke diri kita sebagai orang dewasa adalah rasa-nya. Seni adalah salah satu medium untuk menyampaikan rasa kepada para penikmatnya, Medium ini bisa berupa bahasa, kata, gambar, warna, suara, gerak, dan lain-lainnya.

Mawang sendiri ternyata lulusan institut kesenian yang ada di kota Bandung. Kesenian sudah tidak asing lagi baginya. Kita mengira Mawang hendak menyampaikan ‘rasa’ melalui musik tanpa bahasa kata-kata. Ketika diwawancara mengenai makna lagunya, ia berkata, “Menurut kalian ada makna, yaudah. Kalau ngga ada makna, yaudah”. Mawang membebaskan pendengar untuk menafsirkan sendiri lagunya.

Lagu lainnya yang tak kalah menarik adalah Aku Kamu. Penggalan reff pertamanya berbunyi, “Aku I love you kamu, Aku I miss you kamu, Kamu I Love You, Kamu I miss you aku.” Penggalan tersebut seperti gombalan orang-orang yang sedang menjalin hubungan asmara. Namun, menjelang akhir lagu liriknya berubah menjadi, “Aku I love you aku, aku I miss you aku, aku I need you aku, kamu ya kamu”. Lagi-lagi kita dapat mengira lagu tersebut lebih dari sekedar kata-kata absurd yang dibuat secara asal. Bagian reff pertama menggambarkan hubungan cinta yang masih baru dimulai, sedangkan bagian reff terakhir menggambarkan hubungan yang sudah nyaris berakhir. Ketika egoisme dari masing-masing pasangan sudah tidak terkontrol, rasa cinta satu sama lain berubah menjadi self-love.

Kita bisa juga menafsirkannya sebagai wejangan untuk lebih mencintai diri sendiri. Bahkan memaknai lirik tersebut sebagai satire terhadap bagaimana cara orang menjalani hubungan romansa di masa kini. Rasa  saling mencintai hanyalah sebagai ‘cangkang’, tetapi  kenyataannya kita tidak lebih mencintai dia dari kita mencintai diri sendiri. Seperti yang dikatakan Pidi Baiq, Imam Besar the Panasdalam, “Jangan-jangan ketika kamu bilang ‘aku mencintaimu’, sesungguhnya karena dirimu sendiri yang ingin puas dengan mendapatkan dirinya”. Lebih liar dan jauh lagi, kita dapat memaknai lagu tersebut sebagai gambaran dari konsep wahdatul wujud dan manunggaling kawula gusti. Kata ‘kamu’ dalam lagu tersebut sebenarnya ditujukan untuk Tuhan. Kita sebagai manusia, menjadi bagian dari Tuhan itu sendiri.

Tentu semua yang disebutkan di atas hanya penafsiran pendengar belaka. Mawang sendiri membebaskan pendengarnya untuk memaknai lagu-lagunya dari sudut pandang masing-masing. Jangan-jangan Mawang sendiri juga menciptakan lagu ini tidak sengaja, agar dibuat-buat ada maknanya. Mungkin untuk menemani di kamar mandi atau sekadar menunggu pesanan di kedai kopi.