12 Angry Men, ketika selusin pria beradu agumentasi

https://m.media-amazon.com/images/M/MV5BMWU4N2FjNzYtNTVkNC00NzQ0LTg0MjAtYTJlMjFhNGUxZDFmXkEyXkFqcGdeQXVyNjc1NTYyMjg@._V1_SY1000_CR0,0,649,1000_AL_.jpg

Hai kawan-kawan pecinta dan penikmat film di mana pun kalian berada! Kembali lagi dengan saya (h²o).  Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba mengulas film hitam putih keluaran 62 tahun lalu yang berjudul 12 Angry Men. Film ini mendapatkan rating  cukup tinggi sebesar 8,9/10 di IMDB. Film ini dilestarikan di negara asalnya (Amerika Serikat), lho! Film ini dianggap sebagai karya yang mengandung budaya, historis, dan berestetis signifikan. Penasaran, kan? Yuk, kita mulai aja ulasannya.  

12 Angry Men adalah film drama Amerika Serikat tahun 1957 yang diadaptasi dari seri televisi “Teleplay” dengan nama yang sama karya Reginald Rose. Film ini ditulis dan diproduksi ulang oleh Rose sendiri dan disutradarai oleh Sidney Lumet. Film ini dibintangi oleh para pemain film legenda Hollywood yakni Martin Balsam (anggota juri ke-1), John Fiedler (anggota juri ke-2), Lee J. Cobb (anggota juri ke-3), E. G. Marshall (anggota juri ke -4), Jack Klugman (anggota juri ke-5), Edward Binns (anggota juri ke-6), Jack Warden (anggota juri ke-7), Henry Fonda (anggota juri ke-8), Joseph Sweeney (anggota juri ke-9), Ed Begley (anggota juri ke-10), George Voskovec (anggota juri ke-11), dan Robert Webber (anggota juri ke-12). 12 juri ini harus memberikan sebuah keputusan bersalah atau tidaknya dari terdakwa atas dasar keraguan. Di Amerika Serikat, vonis di sebagian persidangan pidana dari juri adalah mutlak.

https://www.dvdsreleasedates.com/covers/12-angry-men-dvd-cover-19.jpg

Adegan di film ini dimulai dengan penampakan sebuah luar gedung pengadilan. Kemudian berlanjut ke dalam gedung tempat orang berlalu-lalang. Tibalah di suatu sudut ruang persidangan kasus pembunuhan seorang anak kepada ayahnya sendiri. Apabila sang anak terbukti bersalah, maka ia  akan dijatuhi hukuman mati. 12 juri diminta masuk ke sebuah ruangan khusus untuk mengambil satu keputusan absolut berdasarkan voting. Apabila  salah satu juri berbeda pendapat, voting harus diulang. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ternyata juri ke-8, Henry Fonda, berpendapat bahwa anak tersebut tidak bersalah. Beliau pun harus adu argumen dengan 11 anggota juri lainnya. 

https://m.media-amazon.com/images/M/MV5BOTI3Nzk2NjE3Nl5BMl5BanBnXkFtZTgwNTAwNDU5MTE@._V1_SY1000_SX720_AL_.jpg

Apakah beliau berhasil meyakinkan 11 anggota juri lainnya sehingga anak tersebut bebas ? Atau ternyata argumentasi beliau hanyalah pepesan kosong belaka? Untuk tahu jawabannya silakan teman-teman saksikan film ini dari awal sampai akhir. Sebenarnya film ini sangat sederhana. Latarnya kebanyakan hanya fokus di  satu ruangan saja. Namun, dialog dan argumentasi para juri begitu memikat seiring dengan intensitas emosional dari para juri yang kian memuncak hingga akhir film ini.  Penonton mampu terbawa suasana dan seakan-akan menjadi anggota juri ke-13. Tanpa terasa film ini sudah menyita 96 menit dari kehidupan kita. Akhir kata, saya sangat merekomendasikan film ini. Walaupun memiliki keterbatasan (hitam putih, minim aksi, minim lokasi), film ini sarat dengan isi. Seperti pepatah “less is more“.

Sekian dari saya. Terima kasih sudah membaca dan mohon maaf jika ada kesalahan. Sampai jumpa di ulasan saya selanjutnya 🙂

https://patch-com.cdn.ampproject.org/i/s/patch.com/img/cdn/users/108254/2012/02/raw/4c66ac75b661a2baff97dc8062a18f4c.jpg?width=984

Kelebihan:
1. akting dan dialog para aktor dengan tingkat emosional yang semakin intens sampai menjelang akhir film  terasa sangat nyata
2. argumentasi berbobot, logis, serta mudah dipahami bagi  penonton yang awam terhadap hukum sekalipun

Kekurangan:
tidak ada

Nilai:
80

Kelebihan

1. Akting dan dialog para aktor dengan tingkat emosional yang semakin intens sampai menjelang akhir film  terasa nyata
2. Argumentasi berbobot, logis, serta mudah dipahami bagi penonton yang awam terhadap hukum sekalipun

Kekurangan

Tidak ada

Nilai